Thursday, October 24, 2019


Siapa Chairil Anuar? Apa kaitan beliau dengan puisi? Pasti ramai tidak tahu atau samar-samar mengenai seorang tokoh puisi ini.



Chairil Anwar adalah seorang penyair legenda yang dikenal juga sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul “Aku”). Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Jun 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastera. Penghargaan itu diterima oleh putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar.

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih iaitu;

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu,
 Keridlaanmu ,menerima segala tiba,
Tak kutahu setinggi itu atas debu,
Dan duka maha tuan bertahta.

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan ibu sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, mahupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala dan boleh dikatakan tidak pernah diam. memilih menikah dengan gadis lain benama Hapsah Wiraredja. Pernikahan mereka berlangsung pada tanggal 6 Agustus 1946. Dari pernikahan ini, Chairil Anwar mendapatkan keturunan seorang putri canik yang dinamainya Evawani Alissa.
Beliau memilih untuk menikah dengan gadis lain benama Hapsah Wiraredja. Pernikahan mereka berlangsung pada tanggal 6 Ogos 1946. Dari pernikahan ini, Chairil Anwar mendapatkan keturunan seorang putri cantik yang dinamainya Evawani Alissa.Kehidupan pernikahan Chairil rupanya tidak berjalan lancar. Pasangan ini kemudian harus menghadapi perceraian di akhir tahun 1948. 
Antara contoh puisi beliau:
Kepada peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Kebanyakkan puisi yang dihasilkan oleh Chairil Anuar adalah berdasarkan pengalaman beliau sendiri. Disebabkan beliau kasihkan ibunya, puisinya seperti memuji darjatnya seorang wanita. Chairil Anuar adalah seorang penulis  yang sangat dikenali pada masa itu sehinnga kini.

No comments:

Post a Comment